Kamis, 10 Maret 2011

Qurban

6
Qurban

MARI LEBIH MENDEKAT KEPADA ALLAH !

Apa yang ada dibenak anda ketika mendengar kata qurban? Kambing, kucuran darah atau anda sedang berfikir tentang seorang pejalan kaki yang ditabrak lari oleh penegemudi truk, atau seorang gadis dusun yang diperkosa bajingan calo TKI? Untuk dua kasus yang disebut terakhir itu, mungkin anda sedikit confuse dengan kata lain yang hampir sebunyi: ‘korban’. Bahkan sejak kecil kita sudah terbiasa dan akrab dengan kata yang satu ini. Bukankah orangtua dan guru kita selalu menasihati kita agar selalu berkorban demi masa depan? Bahkan dalam setiap kesempatan aparat kelurahan selalu menganjurkan agar kita sebagai warga yang baik tak segan mengorbankan kepentingan pribadi demi kemaslahatan orang banyak, sehingga tak jarang wargapun merelakan tanah pribadinya untuk membangun fasilitas kelurahan atau bahkan dijadikan tanah bengkok jatah pak lurah. Agak membingungkan khan?

Tetapi antara keduanya sebenarnya terdapat benang merah yang sama –walaupun tidak selamanya benar- yaitu ada sedikit terdapat nuansa ‘penyerahan’, ‘persembahan’, atau sesuatu yang berbau ‘darah’ dan ‘kematian’. Hanya, apabila kata ‘korban’ melulu berkonotasi negatif, maka kata ‘qurban’ atau ‘kurban’ umumnya bermakna positif dan bernilai ‘ukhrowi’.

Qurban berasal dari kata qarib, yang berarti ‘dekat’, dalam arti jarak fisik maupun hubungan psikis emosional. Karenanya, tidak semua teman kita sebut karib dan tidak semua orang kita kategorikan sebagai kerabat, kecuali yang telah benar-benar dekat lahir maupun bathin. Dalam perspektif agama Islam, qurban adalah kewajiban syar’i bagi setiap muslim yang mempunyai kelebihan rezeki berupa penyembelihan hewan (bisa berupa kambing, qibash, sapi atau unta) pada hari raya ‘iedul adha (10 Zulhijjah) dan hari-hari tasyriq (11-13 Zulhijjah) untuk kemudian dagingnya dibagikan kepada kaum dhuafa. Kewajiban ini bermaksud untuk meneladani laku Rasulullah Ibrahim as. yang demi penghambaannya yang kaffah dan menjaga ke’dekat’annya kepada Allah SWT, tak segan ‘menyembelih’ anak tercinta semata wayangnya Ismail as.

Sesungguhnya disanalah letak pesan moral dalam kewajiban berqurban. Bahwa kita sebagai manusia yang telah berikrar lewat kalimat penghambaan ‘tiada Tuhan selain Allah’ akan diminta menunjukkan komitmennya dengan kerelaan mengurbankan sesuatu -yang bahkan paling kita cintai sekalipun- kepadaNya. Sebagai bukti bahwa pengakuan kita tidak hanya di mulut belaka, sebagai garansi bahwa cinta kita kepadaNya melebihi cinta kita kepada berhala dunia, dan sebagai parameter seberapa ‘dekat’ hubungan kita dengan Sang Khaliq. Jangankan hanya seekor kambing, selayaknya bila Dia meminta, seorang muslim sejati tidak akan merasa rugi dan rela mengurbankan jiwanya untuk jihad fi sabilillah. Layaknya terhadap seorang kekasih yang sudah begitu qarib, apapun akan rela diqurbankan demi mendapatkan dan mempertahankan cintanya.

“Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak berduka cita” (QS-46:13 )

Jadi media hewan hanya merupakan simbolisasi dari cinta dunia, dan kewajiban berkurban adalah perlambang penyerahan dan penghambaan total. Karena sesungguhnya pula bahwa prosesi penyembelihan qurban itu tidak dimaksudkanNya sebagai bentuk persembahan seonggok daging atau kucuran darah sebagaimana banyak terjadi dalam tradisi paganisme, tetapi lebih merupakan bentuk ketaqwaan seorang hamba kepada Rabbnya.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS-22:37).

Dan laiknya semua ibadah mahdhah dalam Islam, selain mempunyai makna spiritual-vertikal, kewajiban qurbanpun mempunyai makna sosial-horizontal. Karena setiap kerat daging yang dibagikan kepada dhuafa akan menghasilkan kesyukuran yang tak terhingga dan pengaruh pemberdayaan yang efektif. Aspek kerelaan berqurban yang satu ini yang sering kita abaikan. Padahal Rasulullah SAW menyuruh kita untuk selalu mencintai dan mengasihi anak yatim, orang miskin dan kaum lemah lainnya. Dalam skala yang lebih luas lagi, kerelaan berqurban akan menghasilkan mujahid-mujahid tangguh dalam rangka penyebaran syi’ar Islam.

Tak pelak, pelaksanaan kewajiban berqurban memberikan kontribusi yang besar bagi derajat keimanan dan ketaqwaan seorang muslim. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dari sanad Ibnu Majah dan Ibnu Hakim, Rasulullah SAW menyatakan bahwa ‘dalam setiap helai bulu yang menempel pada kulit hewan qurban itu terdapat satu kebaikan’. Maka sungguh tak terhitung berapa banyak kebaikan yang dapat didulang setiap tahunnya lewat pelaksanaan qurban ini. Semoga di akhirat kelak kita mendapati begitu dekatnya kita kepada Allah sehingga tidak ada lagi jarak diantaranya. Karena sesungguhnya bila kita mendekatiNya sejengkal, Dia akan mendekat sehasta, dan bila kita mendekatinya dengan berjalan, niscaya Dia akan mendekati kita dengan berlari. Mari, lebih mendekat kepada Allah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar